jakarta is a mall-driven zombiepolitan

Bagi sekelumit orang issue ini mungkin sudah basi. Tapi saya tergerak untuk menulis karena baru bener-bener saya rasakan belakangan dan saat ini ibu saya sedang berbelanja dan saya gak ada kegiatan lain selain liat orang-orang lalu lalang di mall ini,mending ngetik-ngetik aja.

Ya, Jakarta begitu menyeramkan bagi saya. Mengapa? Karena keinginan saya untuk berlibur bersama kekasih di Jakarta (hometown saya di semarang) akhirnya menjadi tour dari mall ke mall, karena sulitnya mendapatkan public space yang menyenangkan ( gratisan) – ataukah memang deep inside saya adalah mallrats yang pengennya ke mall, hehe entah juga – membuat saya merenung. Menyadari bahwa saya dikelilingi oleh zombie-zombie yang tidak sadar akan ke-zombie-annya sendiri, seperti bruce willis yang gak sadar kalau dia sudah menjadi hantu sampe akhir film di sixth sense. And yet, maybe I’m one of the zombie horde too.

Kami berjalan dari mall ke mall seperti pengembara, memandang pekerja-pekerja, ibu-ibu, anak sma, kakek-nenek, yang bergerak teratur dari counter ke counter, dari lantai ke lantai, memandangi telpon selular di eskalator, menatap laptop di kafe, mangambil atm, menelfon sambil jalan, mata-mata yang terhipnotis oleh gemerlap etalase. Seperti selalu mencari sesuatu, sesuatu yang belum tentu mereka butuhkan. Layaknya zombie b-movie yang selalu lapar, tak pernah puas. Adalah sebuah gaya hidup konsumerisme yang didukung penuh oleh kapitalisme global. Mereka nampaknya tidak sadar jika hal itu memang dikondisikan. Mengutip pernyataan yang memlesetkan ujaran Descartes “aku berbelanja maka aku ada” (McKendrick,1982) mendeskripsikan gerombolan zombie ini. Gelombang kapitalisme memang tak mungkin untuk dihindari. Semua aspek kehidupan dapat dikomodifikiasi menjadi produk-produk memanja. Melepaskan diri dari sistem konsumerisme seperti melawan daya gravitasi, nyaris tidak mungkin. Siapa si yang nggak mau dimanja? Dibuai? Banyak yang sadar akan komodifikasi dan labirin konsumerisme ini, tapi mereka tetap membiarkan diri terbawa arus gelombang fantasi yang memang melenakan, membutakan – ya lagi-lagi termasuk saya.

Cerdasnya, kapitalisme mampu melihat celah sekecil mungkin untuk dijadikan peluang. Diantara celah itu adalah waktu luang. Komersialisasi waktu luang terlihat begitu gamblang. Iklan televisi bertubi-tubi mengisi jeda acara, public space yang dapat dinikmati secara gratis pun nyaris tak tersedia, billboard-billboard raksasa menemani yang melamun terkantuk di passengers seat. Terjadi indorisasi, ruang terbuka terkikis oleh hunian vertikal dan shopping mall. Alih-alih berkumpul dengan tetangga, warga Jakarta memilih untuk berjalan-jalan di labirin konsumerisme shopping mall yang memabukkan. Terhipnotis, lalu berbelanja hal-hal yang belum tentu dibutuhkan, membelanjakan makanan yang 5x lipat harga di luaran. Ketika uang habis, pulang.

Public space yang ada pun kehilangan fungsinya sebagai ruang sosialisasi, terutama dengan tersedia fasilitas wifi, orang-orang cenderung membuka laptop atau blackberrynya kemudian bersosialisasi dalam public sphere (habermas, 1960) seperti situs-situs social networking, blogs, milis, forum dll. (IGO anyone?kwkwkw), ketimbang bergaul dengan manusia lain di tempat tersebut. Public space menjadi tempat berkumpul individu-individu yang tidak saling berinteraksi. Menimbulkan gejala baru yaitu ketergantungan pada layar. Layar televisi, hp, computer, laptop, atm, bioskop, dll. Ruang dimana kita berada menjadi tidak terasa nyata, ruang lebih terbentuk pada proyeksi layar-layar tersebut, Kehidupan sosio-kultural menjadi beralih ke ruang-ruang virtual yang ideal (baca bukunya pak piliang mengenai layar, membahas ini sampai tuntastastas)

Bodohnya, stakeholder (pengembang dan pemerintah) tidak pernah berpikir panjang. Semua kebijakan dibuat untuk memperkaya diri sendiri dan kebutuhan-kebutuhan jangka pendek, kebijakan-kebijakan pun cenderung reaktif tanpa perencanaan matang. Proyek yang direalisasikan adalah yang membawa keuntungan besar, public space yang tidak menghasilkan uang diruntuhkan. Sehingga selamat! Jakarta menjadi kota mall! Dikatakan “ketika mall menggantikan ruang public sebagai tempat bertemu warga, maka kota telah menunjukkan gejala kota sakit” (halim,2008). Keberadaan mall yang berlebihan jumlahnya di Jakarta ini memperparah kesenjangan sosial. Warga kaya dan miskin kehilangan tempat berinteraksi (pasar tradisional misal, masih memungkinkan adanya interaksi tawar-menawar, dan lebih plural penjual dan pembelinya). Timbul kecemburuan sosial dimana warga miskin tidak mampu untuk berbelanja di mall, dan mereka kehilangan tempat untuk berbelanja dan berjualan (pasar tradisional semakin tergerus oleh karfur,hypermart, bahkan pemain lokal seperti indomaret dan alfamart menusuk ke tiap sudut – teman saya sampe curiga kalau indomaret dan alfamart sebenarnya adalah invasi alien berkedok mini market untuk menguasai bumi*d’oh), bukan hanya tempat belanja, tempat tinggal pun digusur demi proyek-proyek superblok. Pemerintah nyaris tidak menganggap warga miskin itu ada, hingga tersingkir ke ruang-ruang sisa (bantaran sungai, kolong jembatan, kolong jalan layang), rusunawa/rusunami pun setengah-setengah dilaksanakan, benar-benar tidak termenej. Interaksi antara warga kaya dan miskin secara ekstrim hanya terjadi pada jendela mobil, dimana si miskin meminta-minta dan si kaya was-was akan ancaman kriminalitas. Polusi, kemacetan, banjir yang dipengaruhi oleh pembangunan juga menambah pelik pelipurlara permasalahan.

Diawali dengan runtuhnya kuasa sosialisme pada akhir 90-an membuat faham kapitalisme merasa menjadi pemenang. Menjadi ideologi sahih yang dipercaya membawa kemakmuran. Amerika menjadi kiblat. IMF,WTO tumbuh menjadi taring sang predator. Mengarahkan manusia pada Ketamakan, ya Ketamakan dengan K besar,
Kapitalisme = Ketamakan,
Kapitalisme Global = Ketamakan Mendunia.
(gak heran juga di oprah sering dibilang, obesitas adalah penyakit momok nomer 1 amerika, rakus sih  –generalisasi bodoh. Maaf.Hehe)
Pemerintah tentunya tidak sempat berpikir pentingnya kenyamanan warganya, tentu lebih utama pundi-pundi uang yang mengalir ke brankas jika ada proyek mall dan sejenis dibandingkan proyek penghijauan kota dan public space yang bisa dinikmati warga secara gratis – yang dianggap kurang menguntungkan tentunya.

Dikatakan lagi bahwa “hubungan sosial warga dengan segala keragamannya adalah intisari kehidupan sebuah kota” (halim,2008).

Kota yang baik adalah yang membahagiakan warganya. Kebahagiaan tidak dapat diukur dengan pendapatan perkapita, melainkan juga mencakup mental-spiritual. Kapitalisme global membuat takaran kebahagiaan melulu materi. Dan kita kita disetir menuju itu. Yang kelama-lamaan akan mereduksi ketahanan dan kemampuan jiwa manusia menjadi jiwa-jiwa manja yang ingin serba instan dan pragmatis – lihat penghuni Axiom di film Wall-E, generasi pemalas yang dimanja teknologi, gak beda jauh dengan seonggok daging glonggongan. Itu baru dilihat dari segi manusianya. Belum lagi segi lingkungan alam yang terperkosa, rusaknya equilibrium Gaia. Perancangan anthroposentris terbukti malah menjerumuskan manusia. Alam menjadi murka. Saya percaya akan sifat reflektif dari alam, ketika kita memperlakukan dia dengan buruk, dia akan memperlakukan kita dengan buruk. Jika kita memperlakukan dia dengan baik, dia akan memperlakukan kita dengan baik pula. Builder seharusnya adalah bak seorang shaman, mampu berdialog secara intersubjektif dengan site tempat ia membangun maupun dengan klien, merupakan penghubung keinginan dan kebutuhan site, klien, dan dirinya sendiri. Mampu menyamakan frekuensi sehingga tidak ada pihak yang dirugikan dan rusak keseimbangannya secara fisik, maupun mental-spiritual. Alih-alih, perhatian stakeholder pada kebahagiaan manusia saja belum utuh, apalagi pada alam, makin jauh terlupakan..

Setiap senin dibacakan,

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia….

Sudah lupakah kita?

Kini Jakarta pelahan hilang jiwanya..

artikel ditulis di notes facebook, ahir 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s