Gitar baru bernada jika dawai tertarik kencang.

Malam ini saya membuat riset mengenai arsitektur vernakular,  saya menemukan sebuah blog yang menceritakan mengenai sebuah desa adat di garut bernama kampung dukuh yang keseluruhan rumah di desa tersebut selamat dari gempa beberapa waktu lalu. Sementara desa-desa sekitar mengalami kerugian karena beberapa rumah runtuh.

Sebagai persayaratan agar tetap dapat tinggal di kampung dukuh, harus mau membangun rumah dengan cara tradisional turun temurun. Yaitu dengan struktur kayu yang saling mengunci, siku-sikunya dikencangkan menggunakan pasak, dan dindingnya menggunakan anyaman bambu (gedek).

Dikutip dari blog tersebut :

Kuncen (juru kunci) Kampung Dukuh, Lukman Hakim, mengatakan, kerangka rumah warga adat memang hanya menggunakan kayu dengan dinding anyaman bambu (gedek) serta atap anyaman ilalang.

“ Itu adalah tradisi turun-temurun Kampung Dukuh. Warga adat yang masih mau tinggal di wilayah adat hanya boleh membangun rumah seperti itu, “ Secara turun-temurun diajarkan pula, rumah panggung dengan tulang kayu, dinding anyaman bambu, dan atap anyaman ilalang itu merupakan cara warga adat untuk hidup sederhana.

Bentuk dan tipe rumah di sini hampir sama. Itu mengajarkan kepada kami untuk tidak saling iri karena semua sama sederhananya. Di dalam rumah juga tidak banyak isinya, “ tutur Lukman.

Pasted from <http://hagemman.wordpress.com/2009/09/18/kearifan-lokal-selamatkan-kampung-dukuh/>

Pernyataan yang dicetak tebal menuturkan adanya keseragaman, kerendah hatian, kesederhanaan yang dipelihara di kampung dukuh tersebut, yang membuat desa tersebut selamat.

membuat saya bertanya,, keseragaman, homogenitas, itu menawarkan kerendahan diri, perasaan senasib, persatuan. Namun dilain pihak, tentu saja keseragaman itu menekan individualitas dimana manusia itu lahir memiliki ego berbeda satu sama lainnya. Sebagai manusia yang mempunyai free will tentu kita ingin bebas, tapi nyatanya kita tidak, seperti contoh diatas, yang menahan kebebasan individunya, menuruti ketentuan turun-temurun secara adat, malah selamat dalam bencana.

Sadar atau tidak sadar kita hidup dalam ketegangan-ketegangan, tarik-menarik antara keinginan dan kewajiban, kebutuhan pribadi atau kebutuhan keluarga, ego dan norma. Yang selalu dikeluhkan tiap harinya, namun sebelum kita lanjut mengeluh, sejenak dipikirkan apa artinya kita tanpa ketegangan-ketegangan itu, peperangan yang kita hadapi setiap harinya didalam hati dan pikiran kita (yang menurut saya lebih penting daripada perang manapun) adalah esensi kehidupan yang harus kita sadari dan kita syukuri, tanpa ada peperangan dan ketegangan, kita hanyalah batu, mati.

Ketegangan itu seperti layaknya senar pada gitar, gitar baru akan bernada jika dawai tegang tertarik kencang, dan nada-nada itu jika dimainkan bersama akan menjadi harmoni, the life itself.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s