Diantara Kosmos dan Kuantum

Sewaktu saya kecil saya dibelikan buku ensiklopedia berseri oleh ayah saya.Saat itu harga ensiklopedia cukup mahal,jadi ayah saya sangat berwanti-wanti untuk menjaga buku-buku itu agar tidak rusak, dan kami (saya dan adik saya) selalu membacanya dengan hati-hati.

Ensiklopedianya bagus (mungkin karena gak ada pembanding ya, hehe) gambar2 yang besar, dengan bahasa yang bisa difahami. Bagian favorit saya adalah bagian astronomi sementara bagian favorit adik saya adalah fauna. Dan itu terbawa sampai sekarang, adik saya lebih suka nonton animal planet, sementara saya lebih suka bbc knowledge yang banyak astronominya hehehe. Anyhow, akibat buku itu saya menjadi stargazer sewaktu kecil, suka sekali melihat bintang di malam hari, sungguh indah, sunyi dan damai, serasa rumah saya adalah disana, diantara bintang. Apalagi waktu itu saya masih tinggal di kota kecil,  polusi cahaya cukup minim, bintang-bintang sungguh cerah dan mudah dilihat. Sangat banyak pertanyaan saya mengenai bintang-bintang saat itu, mengapa mereka bisa mengambang? mengapa bintang tidak jatuh? lalu ada apakah di dasar angkasa?

Kesukaan saya pada astronomi dipuaskan oleh film-film sci-fi seperti star wars dan star trek, (lebih into ke star trek sih,  karena ada makhluk bernama borg :))

Ya.. Cinta pertama saya pada kosmos

Lalu smp-sma kesukaan saya pada astronomi teralih oleh musik dan teenage angst, hehe (weezer, deftones, korn, depeche mode, placebo, marilyn manson, nine inch nails, white zombie bertanggung jawab atas masa remaja saya) a proud self proclaimed gothgeek at the time haha. Mungkin karena pelajaran fisika yang melulu rumus-rumus teoretis tanpa penjelasan praktis yang seru dan menyenangkan membuat saya enggan belajar dan memilih untuk mendengarkan walkman di ujung ruangan.

Awal kuliah pun begitu, saya berkutat dengan diri saya sendiri (mungkin sampai saat ini sebenarnya), dunia musik dan arsitektur bersaing dalam diri saya saling berebut perhatian.

Ada satu titik pada awal kuliah arsitektur saya yang cukup menyita perhatian yaitu mengenai adanya Proporsi Golden Section/Goden Ratio pada pelajaran Pengantar Arsitektur, yaitu sebuah sistem proporsi yang ditemukan pada bentuk-bentuk pentakel/pentagon, bentuk-bentuk alami (daun, kerang, manusia) yang konsisten, golden section itu secara matematis pun menghasilkan deret fibonacci yang irasional. Golden Section ini pada masa yunani kuno bahkan sebelumnya dianggap sebagai proporsi Tuhan dalam penciptaan, sehingga produk-produk seni dan arsitektural pada saat itu banyak menerapkan proporsi tersebut. Rumus golden section adalah :

ini menarik, karena Golden Section/Golden Ratio itu menjadi seperti “jembatan” dari dunia science dan art.  Sesuai dengan minat saya pada arsitektur dan musik, ternyata keduanya bisa dihubungkan karena proporsi itu bekerja sekaligus pada musik maupun pada arsitektur. Sebagian orang berpendapat bahwa peran golden section dalam kehidupan terlalu dilebih-lebihkan, silahkan menurut anda bagaimana? :)

Hal ini membuat saya kembali tertarik dengan fisika dan matematika, ketertarikan ini membawa saya kepada Neils Bohr, seorang ilmuwan denmark yang mendirikan sebuah lembaga penelitian  untuk fisika kuantum, yaitu kajian fisika mengenai hal-hal yang sangat kecil (kebalikan dari kosmos, kajian fisika mengenai hal-hal yang sangat besar).

Perilaku entitas-entitas subatomic yang diluar nalar manusia, memiliki sifat-sifat cahaya maupun partikel sekaligus, menjadi subjek pemikiran yang menarik. Pemikiran2 fisika yang lama dijungkirbalikkan, bahkan Einstein hingga meninggal pun masih tidak setuju dengan teori komplementarisme dari Bohr.

Hingga kini penelitian mengenai partikel-partikel subatomik ini masih dilakukan. Secara teoritis dengan adanya Theory of Everything yang akan menggabungkan teori-teori kosmos dan kuantum menjadi satu. Secara eksperimental dengan adanya CERN dengan Large Hadron Collider-nya yang salah satu tujuannya meneliti keberadaan partikel Higgs-Bosson yang saat ini hanya eksis dalam bentuk teori saja.

Bukankah ini sangat indah?

Pencarian manusia yang tiada henti akan eksistensi kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung habis, batas-batas yang semakin tidak jelas antara filsafat, ilmu pengetahuan (science), dan seni.

Sungguh kurang beruntung manusia yang hanya berpikir dari satu perspektif saja (perspektif manusia).

Coba teroponglah ke ruang angkasa, diantara bintang-bintang, galaksi, alam semesta, betapa kecil kita ini, kita seperti debu di tepi lautan yang luas, betapa tak berdaya manusia dibandingkan dengan kosmos.

Coba teropong dengan mikroskop elektron, keberadaan partikel2 sub-atomic pada barang-barang di sekitar kita. ternyata di dalam sana, tidak ada sesuatu yang padat! Partikel2 itu bergetar seperti dawai yang dipetik. Berputar-putar dengan kecepatan mendekati cahaya. Seperti ada alam semesta renik tersendiri di dalam sana.

Nafas saya tercekat menyadari hal-hal ini, kenyataan itu ternyata lebih keren dari film-film sci-fi :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s