Mari melamun dan selamatkan dunia (diri)

Kuliah di arsitektur itu mirip bekerja jadi pelayan di sop ikan makbeng saat peak season, dengan tugas-tugas yang hektik, timbunmenimbun, tidak memberi kesempatan untuk bernafas dan tersenyum jujur, yang ada senyum keki dan encok pegel linu. Ya memang tugastugas itu melatih mahasiswa untuk siap didunia nyata yang jauuuuh lebih keras tantangannya. Tapi, sejauh pengalaman saya kuliah (believe me, saya sangat berpengalaman kuliah), tugas bertubitubi itu menimbulkan disorientasi belajar, belajar bukan mengejar ilmu pengetahuan tapi mengejar nilai dan target, membuat praktikpraktik pragmatis lazim dilakukan mahasiswa, sikut sanasini, copypaste, tugas yg turun temurun, u name it. Dan pada akhirnya yang paling dikuasai oleh mahasiswa adalah trik pragmatis untuk mencapai target itu, yang terbawa di dunia kerja, dan akhirnya kampus melahirkan mesinmesin pengejar target, bukan arsitek (aga lebay, tp lumayan bener kan?).

ada sebuah artikel yang menyatakan bahwa melamun itu tidak sepenuhnya buruk. Menurut saya, mahasiswa arsitektur perlu diberi waktu untuk melamun. Melamun adalah saat untuk mencerap, mengendapkan, menyatukan apa-apa yang dipelajari, dan juga berfantasi. Kalau diluar jam kuliah tentu saja sulit, karena pasti mahasiswa memilih melakukan kegiatan non-akademis, non-kampushit yang lebih seru dan asyik. Jadi saya usul untuk minimal ada 3 sks untuk mata kuliah melamun. Di mata kuliah ini mahasiswa wajib meninggalkan segala pikiran-pikiran akan tugas, menenangkan diri, merenung, melamun, merasakan kehidupan disekitar yang terlewat karena kesibukan, kuliah mungkin 80% outdoor, memperhatikan lingkungan sekitar, hal-hal sederhana yang jika diperhatikan sangat inspiratif. Menjadi sadar, belajar merasakan.

Ingat, sebelum eksploitasi rasio dan intelektual akibat dari humanisme, arsitek (pembangun) tradisional adalah semacam dukun/orangpintar/shaman yang menjadi penghubung antara tanah, alam dengan manusia yang akan tinggal di tempat itu, melalui doadoa, prosesi, sesaji, ilmuilmu geomancy sedemikian rupa menyamakan “frekuensi” calon penghuni, material bangunan, dan alam sekitar sehingga terjadi sinergi, hidup bersama secara seimbang. Untuk menjadi “orangpintar” tentu butuh kepekaan tersendiri, mampu merasakan halhal yang tidak dirasa oleh orang biasa, yang dilatih melalui lakulaku tertentu dan disiplin spiritual.

Menurut saya arsitek harus menyelami dan mempelajari kepekaan ini kembali, tidak melulu dikejar nilainilai humanisme yang ternyata memiliki dampak negatif terhadap alam sekitar, misal : melalui eksploitasi alam berlebihan dan pandangan yang antroposentris. Kepekaan terhadap alam sekitar menimbulkan rasa hormat terhadap lingkungan dimana manusia hidup, lingkungan adalah sahabat yang hidup bersama kita, lingkungan bukan panggung sandiwara manusia, tapi mereka juga aktoraktor dalam sandiwara yang memiliki peran aktif, bukan hanya latar.

Now, let’s daydreaming and save the world :D

*nb : sebenarnya istilah menyelamatkan dunia itu menyesatkan, karena sebenernya dunia baik-baik saja dengan atau tanpa campur tangan kita, kita hanya ingin menyelamatkan diri kita sendiri, namun memberi istilah menyelamatkan dunia agar terkesan lebih heroik mungkin haha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s