Batang lidi tak mampu berdiri sendiri

Perkataan freud bahwa kepribadian kita dicetak pada saat kita kecil sepertinya benar adanya. Saya tumbuh sebagai anak yg pemalu dan tidak percaya diri, seingat saya itu disebabkan oleh bentuk kaki saya yg kurang normal, jadi waktu itu kaki saya sering terserimpet kaki sendiri dan terjatuh sendiri. waktu itupun saya sangat malas sikat gigi sehingga gigi membusuk dan nafas saya bau bukan main ( sampai skrg sih kalau ini :p ). Namun alih2 memperbaiki habit malas sikat gigi saya menghindar berbicara didepan orang lain agar tidak dicela bau.
Jadi daripada bermain dengan teman-teman saya lebih suka menyendiri dan membaca. Karena dengan membaca saya tidak perlu bicara dengan siapa-siapa dan tidak ada yg akan mencela saya.

Untung ayah saya dokter sehingga anomali bentuk kaki itu dapat di terapi, sejak smp kaki saya sepenuhnya normal :) tp karena sudah terlalu terbiasa menyendiri, saya seperti tidak tau cara bersosialisasi, magnitude sikap malas bersosialisasi ini membesar kala smp saya menemukan weezer ( sebenarnya accident, karena saya pikir weezer blue album itu adalah album oasis, tp turnout I love them more than any bands in the world at that time hehe). sikap antisosial ini seperti mendapat dukungan, being weird is cool. Lalu saya membuat semacam penolakan2 terhadap segala macam kegiatan yang berkaitan dengan bersosialisasi, misal pramuka, osis, olahraga, etc, kegiatan ekstrakurikuler, untuk bersosialisasi di jam sekolah reguler saja pun saya sudah kewalahan.

Berlanjut hingga sma, di sma saya sedikit bimbang karena mulai ada ketertarikan dengan lawan jenis, ketidak mampuan bersosialisasi membuat saya minder berat, dan hari2 saya lebih sering mojok dikelas dengan walkman, dan mengagumi senior2 favorit bersama teman terdekat di gerbang sekolah, saya lumayan bergaul dengan teman2 sekelas tapi sebenarnya saya lakukan dengan terpaksa, demi kesopanan saja. Saya membentuk band dengan teman2 sma, lumayan bisa menyalurkan kegelisahan dan sedikit meningkatkan percaya diri. Kegiatan sekolah sama sekali tidak menarik, tidak ada ketertarikan untuk belajar sama sekali, hari2 saya hanya memikirkan musik.

Membuat saya bingung saat harus memilih jurusan kuliah, hingga akhirnya terdampar di arsitektur yg setelah 8tahun kuliah baru benar2 sadar kalau saya menyukainya :(
Sekarang practically saya kuliah tanpa teman, karena teman2 sepantaran sudah jauh meninggalkan saya, sudah menikah, menjadi entrepeneur, punya karir di perusahaan, S2, atau bahkan S3 hehe.
Dan sikap anti-sosial itu menjadi masalah sekarang. Seperti bumerang yang dilempar dan kembali tp tidak siap menangkap lalu kena kepala “bletaakk!!”
Kenapa? Karena saya tidak ada skill untuk menjalin komunikasi dengan teman sekelas yg jauh dibawah saya umurnya, saya sering ketinggalan info perkampusan, tidak mampu melakukan persuasi pada dosen, dll. I lost a social vocabulary in my life.
Kelakuan anti-social ini membuat saya lebih baik melakukan sesuatu sendiri, walaupun berat daripada melakukannya bersama-sama. Karena dengan depend on ourselves, kita tidak perlu berkomunikasi dgn org lain, tidak perlu argumen, persuasi, mendapat tentangan dan kritik. Terlalu melelahkan untuk saya. Jadi ilustrasinya daripada berbasabasi 5 menit, saya memilih maraton 42km.
Yang kedua malas berkomunikasi ini membuat saya perfeksionis, saya berfikir, karya yang bagus tentu tidak mendapat banyak pertentangan dan saya tidak perlu terlalu keras berargumentasi, jadi saya cenderung over-research, over-think, over-produce, dan pada akhirnya kelelahan, dan energi sudah habis saat tugas/karya belum selesai.

Saat ini saya cukup tertarik dengan bidang akademisi, jikalau saya lulus S1 saya tertarik untuk mengambil kuliah S2, jika bisa di luar negeri, agar perbendaharaan wawasan lebih luas. Tp saya berpikir, dengan kemampuan sosial yg minim ini, bahkan saya tak mampu berkomunikasi dengan teman sekelas, apa saya mampu bertahan dengan kehidupan sosial di luar negeri yang budaya dan bahasanya berbeda?
pemikiran “I have to depend on myself” mulai terkikis, di dunia nyata itu engga mungkin terjadi, karena kehidupan itu seperti jaring-jaring network, dan komunikasi adalah kuncinya ( yg sedihnya berusaha saya tinggalkan semenjak kecil ). Orang yg berhasil adalah org yg mampu mengkomunikasikan ide-idenya dengan baik, orang yang mampu menjalin relasi dan network dengan baik. Sejenius apapun kamu, jika kamu tidak mengkomunikasikan idemu dengan baik dan mudah difahami, orang tidak akan tahu. Ini membuat saya sedikit putus asa, dengan umur yg tidak muda lagi, kemampuan social skill saya mungkin engga lebih tinggi dari anak SD. Apakah saya mampu bertahan?

Advertisements

2 responses to “Batang lidi tak mampu berdiri sendiri

  1. *isin* jebul ono sing moco ya. zzzzzz deleteee ahhh hauerhaurhauhrea

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s