arsitek harus belajar dari the xx

the xx – we are bored and lonely

jika kamu belum pernah mendengarkan / menyaksikan the xx, silakan saksikan videonya terlebih dahulu sebelum membaca tulisan ini.  oke, kalau kamu malas klik linknya, ini video the xx – crystalised (live)

sudah selesai? apa yang kamu pikirkan setelah melihat klip the xx diatas? yang saya pikirkan, mereka adalah sekelompok muda-mudi yang belum pernah main ayunan saat masi kecil sampe-sampe lupa caranya senyum. hehe  no, sebenarnya saya pikir mereka adalah musisi yang sangat brilian (umur mereka belum sampe 20an).  jujur saya engga pernah memperhatikan lirik yang mereka nyanyikan tentang apa, tapi secara musikal the xx sangat mencerahka despite musiknya yang moody dan gloomy. Karena jika diperhatikan, masing-masing pemain memainkan alat musiknya secara sangat sederhana seperti orang yang baru belajar main alat musik,  minimalis, tidak ada efek-efek yang dengan setting yang rumit, tidak ada skil virtuoso ala coltrane. mungkin buat yang belum pernah main alat musik sekalipun bisa mempelajari lagu-lagu dari the xx dalam satu malam saja(?).

eke gondrong, lihat solo gitar saya melolong – herman dragonforce

apa yang membuat mereka begitu spesial menurut saya, dan mengapa arsitek perlu belajar dari the xx? satu kata : komposisi!. dengan teknik dan gimmick yang minim, the xx memberikan musik yang penuh dan sangat keren. ternyata engga perlu gondrong mulet pake clana kinclong trus ngangkang di speaker sambil main solo-guitar melody ngabisin fret gitar ala dragonforce untuk menjadi cool,  ternyata engga perlu belajar matematika differensial seperti meshuggah atau medeski martin & wood untuk bikin komposisi brilian (2 band itu band2 fav saya juga though). the xx memainkan instrumen-instrumen sesuai dengan porsinya, tidak berlebihan bahkan cenderung minimal, melodi dari 2 gitar dibuat saling mengisi saut-menyaut, masingmasing instrumen memiliki ruang kosong untuk di isi oleh instrumen lainnya, tidak ada arogansi. bass dan beat drum machine yang dimainkan jari juga seperti kawin, satu entitas yang terdiri dari 2 komponen. dan secara keseluruhan musik dari the xx jg merupakan satu entitas, yang komponen-komponennya tidak bisa dipisahkan, memiliki ikatan kuat, saling mengisi.

arsitektur adalah bidang yang ambigu, antara seni dan teknik, antara kebebasan seni dan batasanbatasan teknikal ditambah didalamnya terdapat aspekaspek ekonomi, sosial, budaya bahkan politik dan ideologi. akibatnya tidak ada kebenaran atau kesalahan yang mutlak dalam arsitektur. yang menjadi ukuran adalah kesungguhan dan kerja keras si arsitek terhadap konsep yang di usungnya. Luasnya perhatian dari arsitektur itu memunculkan banyak konsep, filosofi, dan cara dalam berarsitektur dari waktu ke waktu, dan salah satu konsep itu adalah “architecture is a ‘frozen music’..” yang dikatakan oleh  Johann Wolfgang von Goethe. menggambarkan adanya hubungan kuat antara musik dan arsitektur, dan tentu saja prinsip-prinsip komposisi diantara kedua bidang tersebut menjadi saling berkesesuaian.

Komposisi dari the xx  dapat disandingkan dengan kata minimalis, yaitu melakukan substraksi pada tiap elemen dalam komposisi ke unsurnya yang paling sederhana namun tetap memberikan efek yang sebesar-besarnya dari kesederhanaan itu. dalam arsitektur kata minimalis sudah jamak, bahkan cenderung banal, terutama dalam publikasi hunian-hunian komersial yang hampir selalu berpromosi dengan kata “modern minimalis”. Lalu minimalis yang seperti apakah yang dimaksutkan?

i’am not don corleone you foo – mies van der rohe

Dalam arsitektur, ‘minimalis’ hampir selalu di kaitkan dengan mies van der rohe yang terkenal dengan jargon “less is more”. Semua tentu sudah mengerti sosok mies van der rohe, yang sedikit diketahui adalah bahwa dia cenderung sebagai “builder” daripada “theorist”, dia anak seorang tukang yang sangat dekat dengan material semenjak kecil, arsitekturnya pun lebih cenderung pada pemahaman dan penggunaan material. Dalam pemahaman saya mies ingin mengembalikan arsitektur pada hakikatnya, arsitektur sebagai arsitektur, bukan arsitektur sebagai deretan simbol/ide. Sebelum mies, di dunia barat arsitektur adalah seperti deretan simbol/ide, representasi dari sebuah ide (garis bawahi representasi), dan kebanyakan merupakan ide-ide borjuis yang tidak sesuai dengan jaman itu (jaman mies adalah jaman pasca perang dunia kedua dimana negara-nagara eropa dilanda defisit karena perang ). Contoh yang di maksut dengan gagasan-gagasan borjuis itu adalah :

Villa Rotonda oleh Andre Palladio 1580

i’m beatiful no matter what they say, they cant bring me doown – villa la rotonda

Cannon Paolo Almerico seorang pengusaha terpelajar di itali memerintahkan andrea palladio seorang arsitek neoklasik untuk mendesain sebuah rumah untuk peristirahatan di pedesaan. Andrea palladio yang terpesona dengan arsitek roma kuno, membangun sebuah rumah yang memberi kesan “bangsawan”. Rumah yang berdiri tegak ditengah padang hijau, dengan kolom-kolom doric yang kokoh, dengan patung-patung tokoh dewa-dewa pada mitologi romawi.

Arsitektur seperti diatas merupakan representasi dari nilai-nilai, nilai kebangsawanan, nilai kekuatan danlainsebagainya yang (lebih sering) berlawanan dengan kondisi sebenarnya. Hal ini tidak disukai oleh mies, karena selain tidak sesuai dengan kondisi saat itu ( pasca perang dunia I ), arsitektur tidak mewujud sebagai arsitektur itu sendiri, namun hanya sebagai representasi nilai.

Karena itu, mies menciptakan arsitektur yang mereduksi semua ornamentasi ke elemen-elemen yang mendasar dari arsitektur, yaitu bidang dan garis, dan menggunakan material-material kontemporer yang muncul pada jaman itu yaitu baja, beton, dan kaca.  Salah satu pencapaian terbesar mies adalah :

Farnworth House, mies van der rohe 1951

i feel naked, i feel gooood – farnworth house

Farnworth house adalah rumah tinggal untuk seorang dokter wanita di amerika (gossipnya ada affair antara mies dengan dokter ini, karena mereka berdua kabarnya sering berkemah berdua di pinggir sungai dekat dengan lokasi rumah ini, walaupun sulit dibayangkan mies yang saat itu sudah berumur 50 tahun  lebih, gendut dan keriput, bercengkerama dengan seorang dokter wanita di dalam tenda, ewwww hehe). Elemen-elemen komposisi farnsworth house sangat simple, hanya menggunakan bidang dan garis, dinding tidak struktural maka seluruhnya diganti dengan kaca agar memperkuat kesan ringan. Namun walaupun dengan komposisi yang striped-down to the basic itu farnworth house terasa layaknya modern-day-temple karena ada kualitas suci, flawless dan  pristine,  tanpa memberikan banyak simbol-simbol, bahasa yang digunakan benar-benar bahasa arsitektur, arsitektur sebagai seni meruang, bukan sekedar representasi nilai. Farnsworth house tidak berdiri sendiri di sebuah lahan hijau, ia menyatu dengan tapak, bahkan mendefinisikan tapak. Menjadi sebuah bingkai dari pepohonan dan alam sekitar, alam yang tadinya hanyalah alam liar, terdefinisi dan terbingkai menjadi sebuah karya seni yang indah dengan adanya farnsworth house ini. Ada 4 kata yang mewakili desain minimalis dari mies yaitu : simplicity, monochromatic, lightness, dan transparency.

simplicity, monochromatic, lightness, dan transparency,  4 kata itu mengembalikan fokus arsitektur kepada ruang, mengembalikan perhatian pada space/kekosongan yang diwadahi oleh struktur dan pelingkup, penyederhanaan struktur dan pelingkup menciptakan rasa bahwa ruang dan kekosongan itulah yang utama, bukan bangunan yang sebenarnya hanya batas-batas yang mendefinisikan ruang.

Selain mies, le corbusier dan pionir-pionir arsitektur modern dari eropa, arsitektur dari jepang juga banyak yang menawarkan ide simplicity, monochromatic, lightness, dan transparancy ini. Contohnya adalah tadao ando, toyo ito (walau sering berubah konsepnya), SANAA, dan masih banyak arsitek jepang lainnya.  Ini disebabkan gagasan mengenai ruang dan kekosongan memang dekat dengan filosofi timur yang berkembang di jepang yaitu zen. Dalam filosofi zen “nothing” atau kekosongan merupakan hal yang utama, sehingga penghargaan terhadap, ruang, kosong bukan hal yang asing bagi masyarakat jepang.

The xx dan mies mengingatkan saya mengenai keutamaan space/ruang. Sebagai mahasiswa arsitektur yang sehari-hari dikejar dengan aspek fisik dan teknikal dari arsitektur jangan lupa akan keutamaan ruang ini, bahwa kita juga harus banyak belajar merasa, dan mengerti mengenai arti ruang, dan berusaha mendefinisikannya dengan cara kita sendiri, jangan hanya menjiplak yang telah mies, ando, lakukan. karena menurut saya, pencarian akan ruang-lah yang utama dalam arsitektur.

Thirty spokes converge upan a single hub;

It is on the hole in the center that the porpose of the axle depends

we make a vessel from a lump of clay;

It is the empty space within the vessel that makes it useful

We make doors and windows for a room;

But it is these empty spaces that make the room habitable

Thus, while the tangible has advantages;

It is the intangible that makes it useful

Lao tzu (550 S.M)

Advertisements

One response to “arsitek harus belajar dari the xx

  1. ndut..kenapa gak post di satu tempat aja sih? posterous/blog? kok ada posterous ada blog? i dont understand..

    btw mimuk ga sadar ya besok kalo mimuk umurnya 50 tahun kan juga bakal bercengkerama di pinggir sungai sama aku yang masih belia… hrhrhrhrhr
    wetengmu keriput wulune putih… aku masih singset dan langsing. lolololololol..

    this is good post mimuk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s