jangan berjalan terlalu cepat, nanti kamu mati

Hari ini terjadi sebuah peristiwa yang cukup kontemplatif *jieh*. rutinitas biasa setelah bangun pagi adalah membuka laptop dan login ke internet (bukannya cuci muka dan sikat gigi). ternyata laptop saya dirubung oleh semut arrgh, cukup banyak. mungkin ada remah-remah roti yang jatuh sehingga mengundang semut-semut itu untuk datang. ada niat untuk melakukan massacre dengan menyemprotkan obat nyamuk tapi obat nyamuk semprot sudah habis, kalau ditiup-tiup aja kayanya engga ngefek, semutnya terlalu banyak. jadi saya hanya pasrah saja. kemudian saya berangkat kekampus untuk kuliah selama beberapa jam lalu kembali ke rumah. saat saya ingin membuka laptop kembali ternyata semut-semut itu sudah engga ada! hilang! 

ini membuat saya berpikir. bahwa tanpa intervensi manusia, alam sudah bekerja seperti semestinya. manusia hanya akan mengganggu harmoninya. yang saya maksud adalah, semut-semut tadi, tanpa harus saya hardik paksa, ternyata hilang dengan sendirinya. jika saya memaksa menghardik, dengan menyemprotkan baygon misal, saya akan menghilangkan banyak nyawa semut yang sebenernya engga perlu. mereka hanya butuh waktu

Itu kata kuncinya, waktu.

kehidupan masa kini membuat manusia selalu rakus akan waktu. seakan 24 jam itu kurang. informasi datang bertubi-tubi dengan kecepatan sangat tinggi. ibu-ibu ingin buru-buru menyekolakan anaknya, bahkan umur 4 tahun sudah diberi pekerjaan rumah. lulusan-lulusan yang lebih cepat dari waktunya diberi penghargaan lebih. seperti selalu ada yang harus dikejar. selalu berlari. mengejar apakah?

mengejar cita-cita?

lalu?

sejak kecil kita diajarkan untuk mengejar cita-cita, tanpa tahu sebenarnya untuk apa kita harus mengejar cita-cita.

seperti mengejar ilusi.

menjadi lupa bahwa waktu bukan milik manusia sendiri. bahwa waktu adalah apa yang semesta perlukan untuk harmoni. bahwa waktu adalah yang manusia butuhkan sebenarnya untuk menjadi utuh yaitu menjadi bagian dari semesta (manusia bukan penguasanya).

modernitas jika dilirik secara sejarah merupakan hasil dari humanisme, kolonialisme dan industrialisasi. mengalienasi manusia dari alam. manusia menjadi penguasa-penguasa alam, alam di eksploitasi untuk kebutuhan manusia. yang pada tahun-tahun belakangan ini terasa benar akibatnya. akibat dari manusia yang teralienasi dari semestanya.

sekarang mari kita renungkan, untuk apa sebenarnya kita berlari? mengejar cita-cita? untuk bahagia bukan? 

berilah waktu untuk semesta membantu kita bahagia.

Advertisements

2 responses to “jangan berjalan terlalu cepat, nanti kamu mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s