membaca marxisme

Richard_marx

tulisan ini bukan penjelasan mengenai marxism, tapi sekedar sharing apa yang saya lihat dari marxism dari perspektif goblog saya. berhubung curhat, akan banyak kata-kata ‘saya’ di tulisan ini. please bear with me :).

saya benci politik, saya pun tidak into gerakan-gerakan mahasiswa yang saya pikir hanya untuk gaya-gayaan dan kayanya ko kebanyakan bacot. saya pasifis, cenderung apatis yang selalu menghindari konfrontasi. persetan dengan revolusi-revolusi (yang biasanya hanya mengganti hegemoni lama dengan yang baru). revolusi yang saya indahkan hanyalah revolusi bumi mengelilingi matahari (zzzz).

namun belakangan saya penasaran, apa sih yang jadi dasar pemikiran mahasiswa-mahasiswa ini yang katanya kiri ini? kenapa kok kalau revolusi cenderung kiri? setelah saya tanya kesana kemari, akar pemikirannya adalah dari richard karl marx.

saya tidak akan menjelaskan mengenai dasar pemikiran marxisme, tentang ekonomi deterministik, tentang dialektika, materialisme, tentang marxisme yang menjadi ideologi kemudian melahirkan komunisme leninis, stalinis dll. bisa kalian baca di wiki semua — sedikit melompat dari topik sebentar, tadi saya sempat bilang kalau saya pasifis. namun saya paling benci melihat penindasan, bullying di sekolah, anak yang di siksa orang tuanya dan yang sejenis.

intinya penindasan kuat ke yang lemah selalu bikin saya naik darah — Nah! ternyata yang menarik bagi saya dari marxisme ini adalah adanya keberpihakan. yaitu keberpihakan pada yang lemah (sesuai dengan tabiat saya yang mudah naik darah melihat penindasan) #jieee.

despite relevan apa engga teori yang dibikin marx dengan lebenswelt (dunia sehari-hari) jaman sekarang, tapi keberpihakan marxisme kepada yang lemah ini memang terkesan heroik. tak heran banyak anak muda menikmatinya bahkan menjadikannya ideologi (yang ideologi sebenarnya juga termasuk hal dikritik oleh marx). marx mengkritik mengenai sains, betapa sains yang dilahirkan dari abad pencerahan ini, yang mengklaim dirinya netral malah membahayakan. karena netral itu, sains memungkinkan untuk digunakan oleh kekuasaan untuk mendukung kepentingan-kepentingannya. contohnya misal: ilmu sains mutahir yang menemukan bahwa reaksi fisi (pemecahan atom berantai) menghasilkan energi yang jauh lebih besar daripada TNT (reaksi pemecahan kimia). pengetahuan tersebut digunakan untuk membuat bom atom oleh manhattan project, yang digunakan oleh sekutu untuk memenangkan perang dunia kedua. sains akhirnya dipolitisir oleh yang berkuasa.

lalu, apakah keberpihakan ini harus melalui revolusi? hehe.. engga juga tuh. habermas, salah satu tokoh teori kritis (kelompok pemikir yang biasa dikenal dalam mahzab frankfurt, yang melakukan kritik terhadap pemikiran marxist orthodox agar lebih relevan terhadap kondisi kontemporer) generasi kedua — dimana generasi pertama teori kritis (adorno, horkheimer) terjebak dalam pesimisme — menyatakan bahwa keberpihakan pada yang lemah tidak melulu melalu revolusi garis keras, namun bisa melalui komunikasi, karena itu cmiiw habermas yang merupakan pemikir marxis yang memiliki pengetahuan ensiklopedis menciptakan teori komunikasi yang sebenarnya merupakan piranti emansipasi untuk membela yang tertindas. penjelasan mengenai teori komunikasi habermas akan terlalu panjang jika dituliskan disini (saya belum terlalu paham juga hihik, baca dulu).

intinya tindakan emansipatif tidak melulu melalui revolusi garis keras, bisa melalui tindakan komunikasi yang damai (fak kok kedengerannya normatif bgt ya).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s