sadarkah kamu telah dicocok hidung?

06-architecture-shrine-to-perspective3-medium-new

gambar konsep kuil ateis dari alain de botton*)

saya baru saja selesai membaca sebuah tulisan bagus di jakartabeat yaitu Buang Buku Panduanmu Wisatamu! mengenai fenomena maraknya buku panduan wisata di rak-rak buku. Buku panduan wisata yang dimaksud adalah buku-buku semacam Lonely Planet atau ekuivalennya, yaitu sebuah panduan tempat-tempat wisata, tempat menginap, harga makanan, ekspektasi lingkungan dan sebagainya di lokasi tujuan wisata. Penulis artikel itu beropini bahwa, betapapun buku panduan tersebut membantu dalam berwisata, namun pengalaman sejati dari berwisata menjadi hilang dengan adanya buku tersebut, sehingga inti dari ‘berwisata’ menurut dia yaitu ‘get lost‘ dan mendapat pengalaman-pengalaman baru menjadi hilang. Analogi lainnya mungkin seperti memainkan sebuah game RPG tapi dalam memainkannya menggunakan ‘walkthrough‘, yaitu semacam panduan langkah demi langkah agar segala macam rahasia dapat di temukan, dan game dapat diselesaikan dengan cepat. dengan walkthrough keseruan dan kejutan-kejutan dari game menjadi tidak terasa lagi, karena semua sudah diduga sebelumnya. lalu apa tujuannya bermain game? butuh pengalaman bermain? atau mengajar tujuan?

Panduan.

Sejauh mana kita butuh panduan?

mengapa kita butuh panduan?

tanpa kita sadari, ketakutan kita akan ketidaktahuan, memberangus kepercayaan terhadap diri, rasio dan intuisi. manusia sejatinya adalah petualang, menjejaki tanah-tanah yang tak berpenghuni, mencecap rasa-rasa yang asing. selalu ada resiko untuk gagal dalam petualangan, tapi bukankah itu esensi dari petualangan. semakin kemari manusia semakin takut untuk berpetualang, segala hal memiliki panduan dari cara memasak hingga cara beribadah. manusia menjadi terasing dengan jiwa petualangnya yang merupakan jati diri. keinginan untuk menjadi aman dan nyaman membuat manusia mencocok hidungnya sendiri, menjadi biri-biri pemalas, menggendut, melamban, menurut.

lalu bagaimana dengan spiritualitas?

manusia dikutuk untuk menjadi bebas kata kierkegaard. apakah anda seorang petualang yang bernafas dengan kebebasan, tidak berpegang pada sesuatu apapun mengayuh sampan kecil menuju lautan kemungkinan yang bebas, ataukah anda seorang pemegang peta yang patuh pada arah-arah yang telah dituliskan? kembali kepada pilihan.

namun jika berkaca pada sejarah, kemanusiaan berpijak dari kehendak untuk bertualang, mencoba-coba, membuat kesalahan, memperluas cakrawala. melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

pilih yang mana? percaya pada panduan? atau diri sendiri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s