Tauto of Death

1127202078

Daripada engga ada postingan. Lebih baik posting walaupun tidak penting dan hanya akan menjadi remah-remah kenangan.. apeu.
Beberapa hari lalu saya dibangunkan oleh adik pagi-pagi, dia minta diantarkan ke rumah sakit (dia lagi koas kedokteran) karena lagi mens dan gak kuat nyetir. Oke dengan sigap pake jeans tanpa make kancut tanpa cuci muka langsung tancap pedal karimun adik saya.

Ngeeeeeeeeeeeennggg…

Sampe deh di rumah sakit. Nah, pagipagi udah diluar rumah sayang banget kalo langsung pulang. Saya berinisiatif mencari sarapan dan seketika yg kepikiran adalah TAUTO. Sudah lama saya kepengen nyoba makanan khas pekalongan ini, jadi semacam soto tapi menggunakan tauco dengan daging sapi dan jeroan. Satu-satunya warung tauto yang ssaya tau adalah di kusumawardani dekat undip bawah. Semoga warungnya buka.

Ngeeeeeeeeeeennnnggg…

Warungnya buka! Uhui. Ada dua customer sedang menanti dengan wajah buas. Ah pasti enak nih. Customernya sampai menanti dengan wajah buas liur menetes begitu. Dengan santun saya duduk di sudut stratehis. Nyemil mendoan yg disediakan. Ternyata warung ini tidak hanya menyediakan tauto pekalongan tapi juga soto. Saya memesan tauto dengan jeroan. Dengan lontong bukan nasi. I hate rice! (Lontong juga asalnya nasi bung). Oiya.

Tak lama hadirlah semangkuk tauto dengan aroma tauco yg cukup kuat. Wuiih. Sedeepp! Rasanya cukup kuat. Tanpa komplimen apa2 sudah manis dan gurih. Enyakkk. Daging dan jeroannya sudah dibumbuin dulu sebelum disiram dengan kuah soto jadi gurih dan empuk. Habis semangkuk dengan porsi cukup dalam waktu kurang dari 5 menit.
Cyus. Sambil elus2 perut, kebelet boker mulai melanda. Ah pas nih. Abis makan lalu boker syahdu. Saat akan membayar saya meraba pantat mencari dompet. Fuck! Lupa bawa dompet! Hanjing, udah kebelet boker lupa bawa dompet lagi. Keringat dingin menetes-netes, dengan terbata-bata saya berkata pada ibu penjual tauto jika dompet saya ketinggalan. Dia lalu tersenyum simpul, mengambil pisau pemotong dagingnya lalu dalam setengah kedipan sudah menancapkan pisau tersebut ke jantung saya. Dibantu oleh pegawainya dia menarik tubuh saya ke belakang. Diruang tersebut tubuh saya dimutilasi, dipotong sesuai ruas-ruas tulang dengan presisi seorang jagal ahli. Potongan tubuh saya dimasukkan dalam plastik-plastik kedap udara ke dalam kulkas besar yang berisi potongan-potongan tubuh lain yang sudah tidak utuh. Sembari memasukkan tubuh saya ke kulkas dia mengambil plastik potongan tangan yang sepertinya sudah cukup lama di lemari es dilihat dari kerasnya lapisan es yang menyelimutinya. Dia lalu melelehkan potongan tangan yang beku mengeras itu, merendamnya dalam kaldu dan bumbu untuk hidangan tauto esok hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s