why people still believes in marriage?

life seemed so sweet and so sad, and so hard to let go of in the end. but hey man, everyday is a brand new deal, right? just keep on working and something’s bound to turn up

– harvey pekar (american splendor)

ini hanyalah curahan uneg-uneg, bukan makalah ilmiah jadi saya menyatakan apa yang saya pikirkan saja, tanpa ada riset serius. jika kurang setuju atau ada yang kurang pas mohon dikoreksi.

saya heran mengapa orang-orang begitu terobsesi dengan pernikahan? seolah pernikahan adalah akhir yang indah, titik dimana kegelisahan hati berakhir, menjadi “happily ever after“. mungkin karena terlalu banyak film-film drama yang menjual pernikahan sebagai suatu pencapaian. iya tidak semua film, tapi kebanyakan. mungkin karena demografi penonton adalah umur-umur gelisah dalam hubungan percintaan sehingga banyak dibuat film-film seperti itu entahlah. tapi itu secara tidak langsung menciptakan persepsi indahnya mahligai pernikahan di dalam fantasi anak-anak muda. dan secara tidak langsung membentuk tekanan sosial akan keharusan menikah.

sementara di kenyataan saya melihat yang sebaliknya. banyak diantara teman saya menikah dan ternyata banyak sekali masalah yang muncul, hingga banyak diantaranya berakhir dengan perceraian. atau pernikahan yang tidak bahagia karena satu pihak mendominasi pihak lain. atau pernikahan yang langgeng namun kondisi internal keluarga yang tidak akur, apalagi jika sudah memiliki anak akan mempengaruhi kondisi psikologis anak menjadi terganggu dan traumatik, yang nantinya menimbulkan permasalahan mental turun temurun. hey, pernikahan ternyata tidak seindah itu.

berdasarkan obrolan iseng dengan kawan saya, kak @editor_in_chic di suatu perjalanan, dia menyatakan sesuatu yang saya amini benar. bahwa pernikahan adalah sesuatu yang tidak “natural” bagi manusia. karena kami percaya ada satu yang pasti bagi kemanusiaan dan semesta, yaitu perubahan itu sendiri. pernikahan seperti menghentikan perubahan itu. perasaan manusia adalah hal yang sulit dipegang, selalu terjadi pasang surut. sementara pernikahan seperti membekukan perubahan itu, perubahan yang pasti terjadi. analoginya adalah air, air ditempatkan diwadah apapun karena sifatnya yang dinamis dan mampu berubah bentuk, sementara jika dibekukan air akan menjadi es, jika dia diwadahi di tampat yang berbeda dengan bentuknya, es itu akan pecah. seperti juga pernikahan.

kebekuan pernikahan ada dalam bentuk kontrak-kontrak, kontrak secara sosial dengan keluarga besar, dengan lingkungan masyarakat. kontrak secara hukum pernikahan, lalu yang paling berat adalah kontrak dengan jiwa manusia jika sudah memiliki anak. perubahan jika terjadi dalam institusi pernikahan, akan melukai banyak pihak, misalkan terjadi ketidak cocokan, secara emosional akan mempengaruhi anak, jika terjadi perceraian, akan mempengaruhi hubungan dengan keluarga besar, prosesnya pun melelahkan diri sendiri.

iya, dasar kegelisahan saya adalah karena saya percaya pada perubahan, yang berarti juga kebebasan.

untuk mengimbangi pendapat saya ini ada pendapat lain yang sebenarnya saya akui juga kebenarannya, berdasar buku the righteous mind karya jonathan haidt. dikatakan bahwa manusia selalu ingin membentuk kedekatan dengan manusia lain. kedekatan itu bisa dalam bentuk apapun, suku, agama, klub bola, klub mobil, apapun yang membentuk semacam ‘lingkaran’ kedekatan. dan keluarga adalah salah satu lingkaran kedekatan yang paling kuat. iya, manusia butuh keluarga secara natural. bahkan jonathan haidt menyatakan sesuatu yang kontroversial bahwa sebenarnya keluarga dibentuk agar laki-laki memiliki kepedulian terhadap anak-anak, karena tanpa berkeluarga dan memiliki anak-anak, laki-laki tidak akan mau berurusan dengan mereka, haha.

jadi ada paradoks disini, manusia adalah makhluk yang selalu berubah, namun di sisi lain dia juga butuh untuk berkeluarga.

kebebasan dan keluarga itu bukan sesuatu yang dapat disatukan, untuk mendapatkan yang satu, harus siap kehilangan yang satunya. saya yakin dari pembaca selalu ada yang menimpali bahwa “bisa kok setelah nikah tapi masih bebas.” iyah, mungkin bisa tapi tunggu aja sampai kamu punya anak, kecuali kamu bukan orang yang bertanggung jawab, hehe (sorry, maybe this is too harsh. tapi pasti ada yang berubah walaupun sedikit ketika kamu berkeluarga dan punya anak. Yang saya maksud adalah yang tidak mau berubah sama sekali)

the bottom line is, semua pilihan ada konsekuensinya masing-masing (yaelah). tiap orang punya preferensi pribadi berdasarkan pengalaman dan ilmu masing-masing pula. yang penting kesadaran akan pilihannya, bukan memilih karena tekanan sosial, atau impulse sesaat. buat saya, menunda pernikahan sebisa mungkin adalah hal yang terbaik, karena jika menjadi bebas, lalu memutuskan menikah, itu hal yang mudah. namun jika sudah menikah, lalu memutuskan menjadi bebas, akan melukai banyak pihak termasuk diri sendiri.

 gimana menurut kamu?

Advertisements

3 responses to “why people still believes in marriage?

  1. Terkait dengan hakikat manusia yang terus berubah, mungkin itu sebabnya pernikahan (atau komitmen secara luas) disebut dengan, antara lain, ‘settling down’.
    Terkadang manusia, seperti berbagai macam unsur dalam semesta, membutuhkan konstanta ini dan itu agar lebih mudah untuk menentukan arah, tujuan, besarnya sumberdaya yang perlu dialokasikan dalam hidupnya–dan masih banyak lagi. Buat beberapa orang, mungkin seseorang lain adalah konstanta tersebut dan pernikahan adalah persamaannya.
    Yang bikin males memang kalo dia nggak tahu apa fungsi persamaan tersebut dalam hidupnya, tapi tetep diterapkan juga.

  2. i wonder why church forbid gambling and allow marriage, soalnya basically sama aja kan. karakter orang banyak yg berubah begitu nikah, lamanya pacaran sama sekali bukan jaminan. dan iya, yang sedih yang menganggap pernikahan itu hal yang natural seperti hidup dan mati, tanpa ada kesadaran baik buruknya dan akibat-akibatnya. jadinya pernikahan yang engga bertanggung jawab. ya itu, terbuai mimpi pernikahan adalah titik ahir. dan happily ever after.

  3. Pingback: I wannabe a housewife | Champion Of Delay·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s