a story for a tattoo #1: mono no aware

ini adalah cerita tentang tato saya, bukan tato pertama sih, tapi yang pengen saya ceritakan dahulu adalah tato yang ini :)

dari wikipedia:

mono no aware (物の哀れ – もののあわれ), literally “the pathos of things,” and also translated as “an empathy toward things,” or “a sensitivity to ephemera,” is a Japanese term for the awareness of impermanence (無常 mujō), or transience of things, and a gentle sadness (or wistfulness) at their passing.

sebuah proverb jepang yang pengaruhi cara saya memandang hidup. banyak terjemahan, salah satunya adalah the awareness of impermanence, yang bisa juga dimaknai sebagai penghargaan akan kesementaraan.

ide besar dalam agama adalah bahwa kehidupan sehari-hari itu fana, sementara kehidupan setelah mati itu selamanya. maka, kehidupan sehari-hari yang fana ini nilainya seakan dibawah kehidupan setelah mati yang abadi. imbasnya, banyak yang mengabaikan kehidupan kini dan utamakan kehidupan setelah mati.

selain dalam agama juga di kebudayaan manusia, keabadian selalu mendapat nilai lebih, seperti dalam batu-batu dan logam mulia, bahkan dalam hubungan, yang abadi lebih dihargai, padahal apa betul kebahagiaan itu pasti didapat dari hubungan yang abadi?

bagi saya, kehidupan yang tidak memusatkan perhatian pada hidup sehari-hari bukanlah hidup yang utuh. karena (dengan analogi manusia), kita berpijak pada keseharian, sementara mata memandang ke tujuan. jika dalam perjalanan (hidup) tidak memperhatikan pijakan/jalan dan hanya memandang jauh ke tujuan, bukankah perjalanan menjadi berbahaya dan tidak menyenangkan?

berbicara mengenai pandangan hidup dan hidup setelah mati memang menyentuh persoalan faith yang tidak dapat diganggu gugat. tapi jika direnungkan. kita eksis di kehidupan yang kita alami detik demi detik merayapi waktu, tanpa ada iming-iming hidup abadi setelah mati pun kita kadang terhanyut tidak sadar akan eksistensi, apalagi ditambah perhatian ke kehidupan setelah mati?

lalu apa pentingnya kesadaran akan eksistensi? dengan sadar akan eksistensi, sadar akan keberadaan saya di dunia, saya menjadi lebih menghargai hidup, bahwa hidup adalah perubahan itu sendiri. keabadian itu bukankah urusan nanti, disana? kita hidup disini. bagi saya terlalu memikirkan keabadian menolak kehidupan utuh yang sejatinya sementara, penuh perubahan dan tidak abadi. kesadaran bahwa kehidupan adalah perubahan itu sendiri membuat saya menghargai tiap detik dimana daun gemerisik, kendaraan lalulalang, pergerakan awan, air mengalir, suara kulkas, gemercik hujan, tiap tarikan nafas, tetesan keringat, mereka semua indah dan pasti berlalu digantikan yang lain, dalam kesadaran akan perubahan ini kita hidup.

manusia tidak lepas dari keadaan emosional, kadang bahagia, kadang duka. dengan menyadari bahwa kehidupan adalah perubahan sendiri itu, tiap-tiap momen emosional kita adalah seperti hanya sepotong kecil dari kue bernama hidup. semua pasti berlalu. sesedih apapun, sebahagia apapun, pasti berlalu. kesadaran tentang ini membantu saya untuk menyikapi emosi, bahagia maupun duka dengan lebih bijaksana.

karena manusia selalu lupa, saya torehkan tulisan tersebut di tangan kiri dengan jarum dan tinta, sebagai pengingat di sisa hidup saya.

2013-01-03-00-26-21_photo

p.s : tato sengaja tidak ditulis dengan aksara jepang, karena saya tidak akrab dengan aksara jepang, dan fungsinya adalah sebagai pengingat, maka dia diusahakan sesederhana mungkin. jadi saya pakai font courier new yang simple, sebagai teksnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s