Seri Belajar Menulis Fiksi #1: Penghuni Kamar

aku memandang gadis ini bangun dari tidurnya, dia pelahan mengerjap mata rasakan cahaya yang lamat-lamat menyelinap masuk dari boven jendela, dengan ujung mata ia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 06.30, dia menggumam “ah lagi-lagi terlalu pagi, setengah jam lagi deh bangun..” lalu berpaling lagi memeluk guling. dia tidak pernah memasang weker, karena dia bisa bangun pagi hanya berdasar niat saja. yah tapi waktunya kadang tidak tepat, kadang kepagian, kadang kesiangan. 30 menit berlalu, jempol kakinya sedikit bergerak, aku tahu dia sudah sadar, dia tahu sudah waktunya bersiap tapi dia enggan bergerak. ingin aku menyentuh pundaknya membangunkan tapi aku hanya bisa memandang diam dari sudut ini.

…dia keluar berjingkat dari kamar mandi dengan tubuh masih basah. handuk putih kecil menutup dari kuncup payudaranya hingga batas pantat dan paha. handuk itu kini dilepas, tubuhnya  telanjang setengah basah. dia miringkan kepala, kumpulkan rambutnya disamping dan keringkan dengan handuk tadi. rambutnya yang terurai sejengkal dibawah dada berwarna kecoklatan begitu lemas, mungkin karena terlalu sering ke salon. dia menikmati bertelanjang dikamar, menjadi dirinya sendiri, bebas, jika waktu memungkinkan dia akan berlama-lama telanjang hingga kedinginan. aku menikmati kepercayaan diri di matanya saat memandangi tubuhnya sendiri di kaca tanpa merasa ada yang mengamati, dia terdiam memandang lekat tiap lekuk tubuhnya entah apa yang dipikirkan. dia tidak sadar sedang diamati, dipelajari. andai aku bisa melihat ke dalam isi kepalanya, pasti akan istimewa.

…kini dia sudah berangkat ke tempatnya bekerja, kamar ini dibiarkan berserak, ingin aku membereskan tapi aku takut dia sadar akan kehadiranku jika barang-barangnya berpindah tempat. aku tau walaupun berantakan, dia tahu persis dimana barang-barangnya berada. aku akan berdiam disini saja menunggu dia datang. menunggu hidupku terang.

…lobang kunci bergerak. ah dia datang. aku berdebar kegirangan. jiwaku seperti terkumpul, pandanganku menjadi terang, kehadirannya mendefinisikan keberadaanku. dia membuka pintu perlahan, tangannya masuk terlebih dahulu menggapai-gapai dinding sebelah kiri untuk mencapai steker lampu. *ctek* lampu nyala dan iya, kamar masih seperti seperti semula, untunglah aku tak tergoda untuk membereskannya tadi. dia menghempaskan tubuhnya ke kasur seperti malam-malam sebelumnya. tiap malam dia seperti kelelahan. dia lepaskan sepatu berhaknya sembari tetap terkapar tiarap di kasur. dia berguling, telentang, lalu melepas kancing blousenya satu persatu. kait beha dilepas dengan tangannya sendiri dengan mudah. kini dia telanjang dada. dadanya tidak besar, setangkup tangan pria dewasa, namun begitu kencang, saat telentang pun dadanya tampak masih menantang. dia lepas bawahan dan celana dalam, ia biarkan jatuh dilantai. matanya memandang nanar ke langit-langit. dengan sangat perlahan dia memandang kemari. aduh. sepertinya dia merasakan kehadiranku. dia tahu aku ada. dia mengambil sapu. dia ayunkan ke sudut langit-langit. ke arahku. ke sawangku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s