kesuh kelah

tulisan berikut hanya berisi keluh kesah, anda sudah diperingatkan.

jadi, saya selalu amazed dengan kemampuan “kritis” (beberapa) teman saya terhadap hal-hal yang mereka konsumsi, entah itu film, musik, agama, apapun. bahkan mereka bisa saling berdebat dengan begitu ketat dan spesifik, seakan menjadi pakar-pakar mendadak mengenai hal-hal yang mereka sukai. selalu tervisualisasi mereka seperti ibu-ibu menopos yang membeli lingerie cacat di online shop, marahnya bisa kaya ngewe salah coblos lobang. jadi misal ada suatu film dari director supercult baru diputar, mereka bisa ngambek ga nonton karena tiba-tiba ada yg spoiler, i mean man, bukan membela pelaku spoiler, tapi buat saya film itu ranahnya beda dengan dongeng yang turun temurun diturunkan lewat lisan, film itu audio + visual (dimana elemen visual sendiri bisa melakukan story telling sendiri melalu tone warna, angle, cinematography dll), ga melulu soal cerita, satu cerita bisa di interpertasiin macem-macem di film. jadi sekedar tau ending dari cerita belum tentu juga ngerusak pengalaman nonton film seluruhnya. dude, garisbawahi pengalaman. pengalaman itu proses bukan cuma ending. kaya ngewelah, pengewe budiman bukan cuma nyari orgasme, seni ngewe ada pada penghayatan proses bukan penghambaan pada orgasme. sedih aja klo ngewe cuma ngejar kecrotan. coli aja bisa klo cuma mo ngecrot.

contoh lain, misal ada band lama yang dalam proses eksplorasinya menghasilkan karya yang tidak easy listening seperti album-album awal mereka. langsung saja keluar kata-kata celaan ini itu. mungkin sebagai konsumer teman-teman saya berhak untuk mencela produk apapun yang tidak sesuai dengan personal preferences mereka, tapi kaya jadi uncool aja yah. gimana kalau dilihat dari perspektif musisinya misal, dimana mereka tentunya membutuhkan suatu eksplorasi, mereka butuh membuat karya yang mungkin tidak easy listening tapi membuat mereka begitu puas dalam memainkannya, bukan berarti band itu menjadi band yang lebih buruk kan. (kok kayanya pandangan saya sedikit esensialis ya? *mikir)

mungkin kultural ya, kultur konsumerisme yang dipupuk kapitalisme yang kini jadi pemenang. sejurus dengan begitu banyaknya produk yang digelontor di segala sisi kehidupan, manusia secara otomatis memiliki priviledge untuk memilih. bahkan memilih hal-hal yang tidak perlu dipilih yang perbedaan kualitasnya mungkin hanya entah 0,0093913% manusia konsumer mempertimbangkannya dengan penuh untung rugi. dude, kalian bukan mungkar nakir, relax.

entah kenapa saya berkeluh kesah, mungkin negativitas dari kritik yang berlebihan terhadap hal-hal yang rasanya ga perlu di kritik itu melelahkan. kaya anak manja lupa disuapin sama nannynya. chill out bro. kenapa begitu serius terhadap hal-hal yang kamu konsumsi. lebih baik produce something gitu. kritik yang sistematis dan beralasan juga sebuah produksi sih sebenernya hehe.

yaudah lah ah.

 

 

Advertisements

2 responses to “kesuh kelah

  1. setuju mas soal spoiler film..lebih setuju lagi soal ngewe itu bukan soal orgasme..tapi proses dari cupang2an ampe selese..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s