… saatnya kembali ke rumah lama

Entah sudah berapa lama saya berjarak dari rumah yang satu ini. Namanya juga rumah, tentunya sebagai tempat bernaung, curhat, bermain dan lainnya. Iyah, rumah saya yang ini bernama musik, ciahhh sok puitis. Saya berjarak dan mengurangi perhatian ke musik karena hidup butuh perhatian yang lain. Kini setelah segala lebih stabil, panggilan ke rumah lama itu tak kuasa untuk ditolak. Yeah, tidak pernah benar-benar meninggalkan musik sebagai konsumer sih, walaupun saya sudah dalam taraf pasrah, contoh di mobil saya pilih mendengar lagu dari radio-radio populer aja instead of ngulik playlist khusus untuk dijalan, ga penting sih, tapi buat former musical afficionado yang kentut aja harus ada soundtracknya ini kemunduraan! haha. Sebagai produser musik amatir, saya mati suri entah sudah berapa tahun. Iya, saya memang orang yang pembosan dan kurang serius. Ke-tidakaktif-an ini bisa jadi cuma sekedar kurang konsistensi aja. Memang tiadanya konsistensi berujung tak ada achievement berarti dalam hidup, kecuali yah, tetap hidup. (eh curcol).

Anyway,  belakangan kegiatan bermusik baru aktif jika ada undangan dari teman untuk mensupport acara mereka. Tanpa ajakan untuk main dari luar, kegiatan bermusik benar-benar berhenti. Pernah beberapa kali mencoba mengumpulkan teman-teman lama, tapi selalu gagal. Hanya sekali latihan bubar dan yang sejenisnya.

Nah, baru-baru ini saya diundang untuk mengisi acara atas undangan Adin, kawan dari kantong seni Hysteria, saya ambil bagian dengan nama Terror/Incognita

kotak listrik #4

Seperti tema-tema acara Kotak Listrik sebelumnya, performer di acara tersebut diutamakan yang melakukan eksperimen-eksperimen dengan suara secara non-konvensional. Kebetulan saya diajak untuk mengisi karena sebelumnya saya pernah beberapa kali perform dengan melakukan eksploitasi seksual pada spiker dan mikrofon :)). Seperti yang sudah-sudah saya akan performing harsh-noise dengan fokus utama pada feedback langsung dari microphone dan speaker. Tidak ada suara yang di siapkan sebelumnya, semua spontan terjadi di atas panggung, gagal dan berhasil itu masalah nasib hehe. seru.

Pikiran saya lalu melayang ke masa lalu, hingga saat ini. Mengapa saya bisa memilih untuk bermain harsh-noise. Awalnya saya bermusik untuk kebutuhan ekspresi (bisa dibaca di sini). Lalu saya bergabung dengan band, yang ternyata membutuhkan kompromi kiri kanan. Ide-ide tidak bisa tersalur utuh. Karenanya saya memutar otak agar dapat menyalurkan ide secara utuh tentunya saya harus melakukan semua sendiri.  Karena tangan hanya dua, ide yang paling masuk akal adalah melakukan programming dahulu dirumah, karena mengumpulkan orang untuk memainkan ide lagu yang saya mau kayanya lebih merepotkan. Lalu saat butuh perform tinggal mencet-mencet tombol (laptop atau keyboard) yang pre-programmed itu, jadilah saya bermain musik elektronik. Nah, karena musik elektronik bermain dengan pre-programmed stuff. Performance di panggung terasa datar karena seperti hanya mengulangi hal yang sudah dipersiapkan dirumah. seperti tidak ada excitement yang berarti di panggung, yang terjadi hanyalah perulangan.

contohnya seperti beginilah.

Melalui musik elektronik saya cukup puas, karena ide dapat tersalur sempurna, namun terasa kurang dalam hal performing. Saya butuh sesuatu yang spontan, immediate, tactile, saya butuh dapat merasakan musik dengan tubuh. Lalu saya berpikir kembali bagaimana cara agar mendapat kepuasan dalam spontanitas tersebut. Berbagai cara sudah dicoba dalam musik elektronik menggunakan berbagai midi controller dan lain sebagainya. namun kebanyakan gagal mendapatkan spontanitas yang dicari karena nyatanya musiknya di program terlebih dahulu, tidak diciptakan langsung di panggung.

Lalu saya berkenalan dengan Masonna.

WOW!

Ini sempurna. Spontanitas, ekspresi total tanpa batasan-batasan harmoni. Juga menarik, karena noise mengeksplorasi sisi-sisi lain dari suara yang non-nada, jarang dikulik karena telinga manusia yang menyukai harmoni maka harmoni itu mengalami over-eksploitasi. Hal yang berlebihan tentunya membosankan. Saya rasa ini bisa menjadi penyegaran dari pre-programmed electronic performance saya sebelumnya.

yah beginilah jadinya.

Tiap kali selesai performing harsh-noise, hati tenang, setenang buddha dibawah pohon bodhi. Setenang om senang 1 menit setelah orgasme. Setenang ibu yang mengantar anaknya sekolah hari pertama (okay mulai berlebihan). Tapi benar, mencurahkan seluruh emosi ke dalam performance sangat melegakan, therapeutic sekali untuk saya. Menyeimbangkan kondisi jiwa, this is better than spa! haha, bedanya setelah spa badan seger, setelah main badan pegel-pegel, hehe. Namun, kenikmatan itu benar-benar subjektif. Namun, entah apa yang dirasakan oleh penonton? apakah bisa menikmatinya? Karena sebenarnya saya pun tidak dapat terlalu menikmati noise jika sebagai konsumer hehe, dalam ranah noise ini, bagi saya grafik kenikmatannya jauh berbeda antara konsumer dan produser. Jika sebagai produser, jelas, kepuasan melalui performing tercapai hingga klimaks. Tapi sebagai konsumer, untuk mendengarkan harsh-noise, saya pun akan berpikir ulang. Terdapat energi yang begitu besar dalam ekspresi melalui harsh-noise, bagi saya energi tersebut baru dapat disampaikan kepada konsumer melalui performance yang terpancar dari gestur tubuh dan ekspresi yang sinkron dengan noise yang dihasilkan. Karenanya saya agak “gagal paham” bagi performer noise yang hanya diam di depan laptop (atau mungkin mereka memegang ideologi tertentu dalam performance, bermain dengan pose ngecek email di laptop saja ternyata memiliki misi-misi mistis? entah), karena energi dari harsh-noise performance tidak tersampaikan, penonton menjadi berjarak, menjadi pengamat, bukan bagian dari performance. Performing noise dengan terpaku diam di depan laptop membuat noise menjadi diskursus, menjadi sesuatu yang di analisis, bukan dialami langsung, kehilangan the immediacy of a performance, seperti sebuah diskusi seni. Keberjarakan memang diperlukan agar akal bisa menganalisis, tapi bagi saya ini seni yang harus di alami dengan seluruh intuisi yang kadang tidak dapat dipahami oleh logika, agar kita dapat benar-benar menghargainya.

===========

Beberapa hari setelah acara saya iseng-iseng browsing noisician favorit saya yaitu prurient. Dia ternyata merilis album baru split dengan Justin Broadrick / JK Flesh ( Godflesh,  Jesu ). Lagi-lagi saya terperangah, sudah lama saya tidak mendapat kepuasan seperti ini dalam mendengarkan musik ekstrim.

favorit saya di split di atas adalah JK Flesh – “Fear of Fear” dan Prurient – “I Understand You”

dan sejenak jadi teringat split band lokal favorit juga Ghaust dan Aseethe, terutama track “Akasia RMX”

Musik/noise dari album Split Prurient / JK Flesh yang berjudul Worship Is The Cleansing of the Imagination dengan noise yang terstruktur, seperti membangunkan monster kreatif yang lagi tidur *apeu*. Dengan gejolak napsu menggelegak saya kembali membuka-buka youtube, tracking beberapa musisi noise idola jaman dulu, dan baru tahu Prurient belakangan banyak bermain noise di iringi dengan beat-beat industrial dari drum machinenya, seru. Jadi tepanggil untuk memproduksi musik secara serius dan terstruktur pula. Hasrat bergolak-golak untuk segera merekam dan merilisnya karena iya, saya walaupun bermusik sejak 2001 tapi sampai sekarang belum punya rilisan apapun, dan hasrat untuk merilis sebenarnya sering tapi saya selalu tidak konsisten, ah semoga kali ini saya kapok dan konsisten.

semangat!

workey

Advertisements

3 responses to “… saatnya kembali ke rumah lama

  1. Pingback: Remah-remah Hidup Dalam Lantunan Nada | Champion Of Delay·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s