remeh-temeh tentang kultwit.

Sembari nunggu mobil di bengkel, daripada nganggur (engga ada tante-tante yang bisa digodain) mending ngetik-ngetik sedikit ngisi blog yang sudah lama engga di update. Saya banyak baca protes para penghuni twitterville tentang kultwit, yeah istilah yang sebenernya saya sendiri ga suka tapi intinya adalah twit yang bersambung. Banyak yang bilang  jika ingin menyatakan sesuatu, daripada dibikin twit yang panjang dan bersambung-sambung, bukankah lebih baik di-blog-kan saja. Memang platform twitter tidak difungsikan untuk menyampaikan pesan panjang, hanya pesan-pesan pendek ataupun links. Saya sendiri jarang ngetik twit bersambung juga. Karena memang malas dan ngerasa gak ada ide yang penting untuk dibaca followers. Tapi saya (kayanya) ngerti kenapa banyak orang suka dengan kultwit.

Tapi coba buat kalian yang ngeblog, berapa banyak yang komen yang postingan kalian? bisa dihitung dengan jari bukan? dan biasanya hanya ucapan terimakasih atau ijin copy-paste. Entah kenapa memang blog (terutama di indonesia, CMIIW) bukan sebuah ruang untuk diskusi padahal memungkinkan sekali comment box dipakai untuk kritik atau meng-counter ide dkk. Blog jadi kaya ruang perpus di kampus di bagian skripsi. Dimana yang baca adalah hanya orang-orang yang ingin mencuri data/ide, sepi tidak ada interaksi. Minimnya interaksi juga bisa disebabkan karena tulisan di blog serasa lebih berjarak. Penulis menulis, selesai, tulisan di unggah, lalu pembaca membaca. Jadi pembaca membaca tulisan yang sudah lepas dari si penulis.

Sementara dengan melakukan twit bersambung, apa yang kita ketik, hadir secara bertahap di timeline pembaca (yang kebanyakan membaca di handheld dimana ruang tersebut sangat personal). Dengan pesan-pesan yang parsial dan bertahap, pembaca mengalami semacam ekspektasi, dan jika mau, pembaca bisa menyela postingan dan melakukan komen di point yang dia mau. Dari posisi penulis dan pembaca, interaktifitas lebih terasa. Penulis dan pembaca adalah subjek-subjek yang saling berinteraksi, seperti orang yang ngobrol, bukan orang yang menulis dan membaca. Jadi dibalik kekurangan twitter untuk postingan panjang (karena memang bukan fungsinya), yaitu sifatnya yang terikat waktu (postingan cepat tergulung oleh twit lain), cenderung mengganggu timeline orang lain yang tidak menginginkan untuk membaca postingan, ada keuntungan yang signifikan.

Dan, serunya, twitter adalah ruang publik yang bebas. Jadi siapapun bisa memperlakukan twitternya seperti yang dia mau, entah dia akan mengabusenya untuk kultwit-kultwit panjang, mencerminkan pribadi megalomaniak, make twit untuk posting-posting toket #realava untuk closeted exhibitionist, bebas aja, akan terjadi seleksi sosial. Jadi menurut saya asal audience-nya setuju, engga ada salahnya memanfaatkan twitter untuk twit bersambung, dan lebih asik lagi bila twit bersambung tersebut ditulis dalam bentuk blog juga.

Advertisements

One response to “remeh-temeh tentang kultwit.

  1. kamu bisa join ke kompasiana.com disana bakal banyak bisa diskusi dgn org-org yg ngepost gak sekedar ijin share ato yg lain, tp justri mndiskusikan pokok permsahan isi tulisan kita :) enjoy it

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s