I wannabe a housewife

Makin kesini, rasanya saya makin dekat dengan pemikiran Rousseau ataupun Nietzsche. Bahwa aura positif yang dibawa abad pencerahan mengenai kemajuan kemanusiaan melalui sains itu terlalu berlebihan. Kemanusiaan sebenarnya berjalan disitu-situ aja, hanya teknologinya saja yang berubah. Kemajuan kemanusiaan hanyalah ilusi, yang saya percaya malahan akan terjadi technological singularity, dimana perkembangan teknologi komputasi yang eksponensial memungkinkan terjadi ancaman eksistensial terhadap kemanusiaan, artinya bahwa teknologi (bisa jadi) mengalahkan kemanusiaan, (skynet anyone?) walau kata kuncinya adalah ‘bisa jadi’ karena kita tidak dapat meramalkan apa yang akan terjadi dalam ‘singularity‘ tersebut.

Dengan isi kepala yang rada-rada nihilis tersebut tiba-tiba pembantu rumah tangga pulang kampung karena istrinya melahirkan. Akhirnya saya harus mengerjakan hal-hal domestik sendiri. Beberes, bersih-bersih, cuci piring, masak-masakan dkk. Biasanya saya sangat malas melakukan kegiatan rumah tangga seperti ini, namun kok sekarang rasanya menyenangkan. Karena proses dan hasilnya langsung saya rasa, engga melalui proses penantian yang panjang. Yang saya maksud begini. Misal kita bekerja kantoran, yang kita tunggu tentu saja gaji, yang datangnya sebulan sekali, sementara beberes, mencuci, proses membersihkan, dan hasil akhir ‘bersih’ itu didapat secara langsung, ada hasil yang nyata, tanpa ada penantian.

Di era informasi ini semua hal di alami melalui layar. Layar tv, ponsel, laptop, komputer, bioskop, baliho, papan informasi, dll. Hidup kita hanya melompat dari layar ke layar. Yang kita alami adalah representasi demi representasi. Sehari-hari kita berkutat di internet dengan media sosial, semuanya virtual. Kontak kita dengan hal-hal sekitar kita semakin minim karena teknologi. Mungkin karena itu saya menjadi bahagia mengerjakan kegiatan rumah tangga, karena melalui pergerakan fisik, kontak langsung dengan benda-benda, lebaynya hal-hal ini mengingatkan saya bahwa saya ini manusia yang menubuh, bukan hanya idea.

Di postingan sebelum saya sangat meragukan insititusi bernama pernikahan. Tapi jika akhirnya menikah dan bisa memilih, saya ingin menjadi bapak rumah tangga saja, biarlah istri bekerja demi karir dan jika punya anak diasuh oleh tante #apeu.

Soundtrack yang mendukung untuk tulisan kecil ini adalah sebuah lagu manis dari Jay Brannan berjudul “housewife“.

Advertisements

2 responses to “I wannabe a housewife

  1. Hmm, technological singularity ya? Ada artikel menarik nih http://www.newyorker.com/books/joshua-rothman/what-are-the-odds-we-are-living-in-a-computer-simulation katanya sih humanity ini akan punah kalau kita gak berubah jadi matrix (kira-kira gitu deh). Mengenai jadi nihilis, kayaknya ga ada yg bisa jadi nihilis total ya hehe. Nietzsche sendiri aja rasanya gak konsisten dalam menjadi nihilis murni, ada saatnya dia ‘menuhankan’ Dyonisos dan ubermensch nya, mencari makna dari pikirannya sendiri. Jadi rasanya setengah nihilis dan mencari makna hidup di makanan enak-enak juga gapapa sih hahaha #justifikasidiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s